Posted by: sendayu | May 28, 2008

ABU BAKAR SHIDDIQ RA.

ABU BAKAR SHIDDIQ RA. MENCERTTAKAN KEISLAMAN DAN KESULITANNYA

Ketika Islam mulai berkembang, orang-orang yang baru memeluk Islam akan menyembunyikan ke-Islamannya. Memang Rasulullah saw. pun menganjurkan hal itu agar mereka tidak dianiaya. Setelah pemeluk Islam berjumlah 39 orang, Abu Bakar r.a. meminta izin kepada Rasulullah saw. agar diperbolehkan mendakwahkan Islam secara terbuka. Tetapi Nabi saw. melarangnya. Namun karena Abu Bakar r.a. mendesak Nabi saw., maka akhirnya Rasulullah saw. mengizinkannya. Kemudian.Abu Bakar r.a. meng-ajak seluruh orang Islam untuk berkumpul di Masjidil Haram. Ketika itulah Abu Bakar r.a. mulai menyampaikan khutbahnya, dan itulah khutbah per-tama dalam sejarah Islam. Pada hari itulah Hamzah r.a., paman Rasulullah saw. memeluk Islam, dan pada hari ketiganya, Umar bin Khaththab memeluk Islam

Ketika khutbah dimulai, kaum muslimin diserang oleh orang-orang kafir dari segala arah. Mereka pun menganiaya Abu Bakar Shiddiq r.a. hingga tubuhnya berlumuran darah. Padahal Abu Bakar r.a. adalah seorang yang terkemuka dan dimuliakan oleh masyarakat Makkah. Hidung dan

telinganya mengeluarkan darah sehingga orang-orang tidak dapat mengenali-nya lagi. Dia ditendang, dipukuli dengan sendal, diinjak, dan segala bentuk penganiayaan yang dapat mereka lakukan. Akhirnya Abu Bakar r.a. pengsan. Ketika Banu Taim (kaumnya Abu Bakar r.a.) mendengar hal itu, mereka segera mengangkat tubuh Abu Bakar r.a.. Mereka sangat pesimis terhadap keselamatan Abu Bakar r.a.. Mereka segera naik ke Ka’bah dan mengumumkan, “Jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal dunia, maka sebagai gantinya kami akan membunuh Utbah bin Rabiah!” Mereka mengatakan hal ini karena Utbah bin Rabi’ah yang sangat berperanan dalam peng­aniayaan tersebut.

Abu Bakar r.a. masih dalam keadaan pengsan hingga sore hari. Dia baru dapat berbicara pada petang harinya, walaupun terasa masih sulit. Ucapannya yang pertama adalah, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Orang-orang yang berada di sekitarnya mengira bahwa hal itu terjadi karena Rasulllah saw.. Walaupun selama sehari penuh dia pengsan dan hampir meninggal, tetapi ketika dia sadar, yang ditanyakannya adalah keadaan Rasulullah saw. Ini adalah karena rasa cintanya kepada Rasulullah saw.. Akhirnya mereka meninggalkan Abu Bakar r.a. dengan perasaan kesal.

Ternyata Abu Bakar r.a. masih mempunyai harapan untuk hidup dan mulai dapat berbicara. Ibunda Abu Bakar r.a. menyuruh Ummu Khair agar menyiapkan makanan dan minuman untuk Abu Bakar r.a.. Setelah siap, makanan itu dihidangkan kepada Abu Bakar r.a., namun dia menolak makanan tersebut. Keinginannya ketika itu hanyalah berita tentang kese­lamatan Rasulullah saw. Dia menyuruh ibunya agar menanyakan Rasulullah saw. kepada Ummu Jamil r.a. (saudara perempuan Umar r.a.). Karena per-mintaan anaknya yang terluka parah itu, maka ibunya menunaikan permintaan itu dengan pergi ke rumah Ummu Jamil r.a..

Setibanya di sana, ibunda Abu Bakar r.a. bertanya kepada Ummu Jamil r.a. tentang keadaan Rasulullah saw.. Ummu Jamil r.a. menyembunyikan ke-Islamannya karena dia baru memeluk Islam. Ummu Jamil r.a. berkata, “Saya tidak kenal dengan Muhammad dan Abu Bakar, tetapi izinkanlah saya melihat keadaan anakmu Abu Bakar.” Maka mereka berdua segera menemui Abu Bakar r.a. yang terluka parah.

Ummu Jamil r.a. menangis ketika melihat keadaan Abu Bakar r.a. yang terluka parah. Dia berkata, “Apa yang dila-kukan oleh orang-orang jahat itu? Semoga Allah saw. membalas kelakuan mereka.” Lalu Abu Bakar r.a. bertanya kepada Ummu Jamil r.a., “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Ummu Jamil r.a. memberi isyarat kepada Abu Bakar r.a. karena khawatir perkataannya akan didengar oleh Ummu Khair r.a., ibunda Abu

Bakar r.a. yang ketika itu belum memeluk Islam. Abu Bakar r.a. berkata, “Jangan khawatir tentang ibu saya. Kabarkan kepada saya tentang keadaan Rasulullah.” Ummu Jamil r.a. menjawab, “Alhamdulillah, beliau berada dalam keadaan baik dan sehat.” Abu Bakar r.a. bertanya lagi, “Di manakah beliau berada saat ini?” Ummu Jamil r.a. menjawab, “Beliau berada di rumah Arqam r.a.” Lalu Abu Bakar r.a. bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan makan dan minum, sebelum berjumpa dengan Rasulullah.”

Sebenarnya ibunya sangat ingin memberi makan kepada Abu Bakar r.a., tetapi karena Abu Bakar r.a. bersumpah bahwa dia tidak akan makan sebelum berjumpa dengan Nabi saw. maka akhirnya ibunya tidak dapat menahan keinginan anaknya itu. Kemudian ibunya menunggu sampai jalan di depan rumahnya menjadi sepi, agar mereka dapat bertemu Nabi saw. tanpa diketahui orang.

Pada malam harinya, diajaklah Abu Bakar r.a. ke rumah Arqam r.a. untuk menjumpai Rasulullah saw.. Setelah keduanya bertemu, maka Abu Bakar r.a. segera memeluk Rasulullah saw.. Demikian juga Rasulullah saw. keduanya menangis, dan semua kaum muslimin yang ada di situ pun menangis, karena terharu melihat keadaan Abu Bakar r.a.. Kemudian Abu Bakar r.a. memperkenalkan ibunya, Ummu Khair kepada Rasulullah’ saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia adalah ibu saya, berdoalah untuknya dan bujuklah dia agar mau memeluk Islam.” Kemudian Rasulullah saw. men-doakan hidayah untuknya dan mengajarkan tentang Agama Islam. Dan saat itu juga, ibunda Abu Bakar r.a. masuk Islam.

Hikmah dari kisah di atas:

Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira, dan menguntungkan. Tetapi cinta sejati hanya akan terlihat jika berada dalam keadaan sulit, musibah, dan tidak menguntungkan, namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya.


Leave a response

Your response:

Categories